Apa kau pernah merasakan seperti apa yang akurasakan? Tak ada apa-apa. Sama sekali tak ada! Aku tak tahu apa yang harus akulakukan. Apa yang harus akupikirkan. Kosong. Tak ada! Hari-hari terasa monoton. Itu-itu saja. Sepi-sepi saja. Abu-abu saja. Mandeg. Apa kau pernah merasakan?
Aku tak pernah merasa memiliki apa-apa (sebagaimana yang sering dikatakan guru ngajiku; manusia lahir dalam keadaan lemah dan tak memiliki apa-apa. Semua karena belas kasih yang diberikan tuhan). Tapi kenapa kini aku merasa telah banyak kehilangan? Waktu, tempat dan juga keberadaan. Apa aku pernah memilikinya. Tapi sungguh! Aku merasa kehilangan. Sekali lagi, aku kehilangan sesuatu yang aku tak pernah merasa memilikinya. Nothing!
Yang aku tahu, aku hanya pernah memiliki satu kalimat. Satu kalimat yang selalu memerintah, mengawasiku dan lebih sering memaksaku. Menyiksaku dengan dingin.
Aku pernah memiliki Ayah, Ibu, saudara dan masa kecil, katanya. Tapi tak ingat. Aku tak percaya. Bahkan ketika seorang perempuan memperlihatkan foto-foto yang ia simpan rapih. Perempuan yang mengaku-ngaku Ibuku. Perempuan yang semena-mena mengklaim telah melahirkan dan membesarkanku. Ada foto lelaki berkumis tebal dengan rambut klimis belah pinggir. Uh, perempuan yang mengklaim telah melahirkan dan membesarkanku semena-mena dan angkuh mengatakan lelaki itu Bapakku. Sungguh! Aku tak mau mengakuinya. Jika aku memang pernah mempunyai Bapak, tentu tidak akan seperti yang ada di foto itu. Tidak mungkin! Di sisi kanan foto lelaki berkumis tebal itu ada dua orang bocah lelaki. Itu fotoku dan adikku. Apa kau percaya? Bagaimana fotoku bisa seperti itu. Aku ini lelaki tampan, gagah! Lelaki dengan segudang prestasi dan nama yang mengembang di mana-mana. Aku gagah, tampan dan mempesona. Aku dihormati dan disegani. Dan aku adalah orang yang mandiri! Banyak perempuan yang mengejar-ngejarku, lebih banyak lagi orang tua yang ingin menjodohkan putrinya padaku. Bagaimana bisa aku disamakan dengan bocah jelek yang manja dengan seragam kucel dan topi usang berwarna merah? Bocah yang malu-malu memeluk kaki besar lelaki berkumis tebal. Dan satu lagi, aku tak pernah suka permen lollypop! Permen dengan gagang seperti yang dipegang bocah jelek dalam foto itu. Semua orang waras pasti setuju, “Aku bukanlah seperti yang ada di foto itu! Aku ini lelekai tampan!”
Bagaimana dengan foto anak kecil satunya lagi. Foto yang lagi-lagi dikatakan sebagai foto adikku. Hmm… memang sedikit mirip, tapi aku yakin dia bukan adikku. Dia memliki tanduk sebagaimana foto lelaki berkumis tebal yang juga mempunyai dua tanduk.
Di sisi kiri lelaki berkumis tebal, ada foto perempuan manis dengan rambut sebahu terurai, mengenakan gaun merah jambu dengan motif mawar di dadanya yang … (dikatakan itu foto ibuku, maka tentu tak sopan jika kugambarkan bagaimana indahnya pemandangan dua gundukan di balik motif bunga-bunga itu) . “Ini foto Ibu dulu! Cantik bukan?” Kata perempuan semena-mena itu dengan bangga. Aku tak ingin bertanya siapa perempuan satu lagi di sebelah kirinya, yang dengan senyum kecil mengcangkul pipinya menjadi dua buah lesung pipi yang manis. Itu pasti foto yang akan dikatakan sebagai kakakku. Meski dia tidak memiliki tanduk seperti perempuan yang mengaku Ibuku, tapi dia memiliki gigi taring yang panjang, kuku-kukunya panjang dan runcing. Uh…! Bagaimana aku bisa percaya?
Aku hanya pernah memiliki satu kalimat __sebagaimana yang telah kukatakan tadi. Satu kalimat yang selalu memerintah, mengawasiku dan lebih sering memaksaku. Menyiksaku dengan dingin.
“Jadilah manusia!”
Aku tak ingat, apakah kalimat itu diberikan oleh seseorang atau aku memungutnya dalam mimpi; mungkin kalimat itu ditiupkan oleh malaikat ke telingaku, sehingga aku tak pernah bisa melupakannya. “Jadilah manusia!.” Aku tak peduli. Yang pasti, hanya itu yang aku yakini pernah kumiliki.
sajak terjemahan
3 hari yang lalu